Kandidat Presiden Bersaing Mendapatkan Dukungan Dari Jenderal Militer Yang Sudah Pensiun


Kandidat presiden bersaing untuk mendapatkan dukungan dari jenderal militer yang sudah pensiunPara perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Nasional berkumpul pada pertemuan tahunan di Istana Negara pada bulan Januari. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 198 jenderal TNI dan 170 jenderal polisi. (The Jakarta Post / Seto Wardhana)
Meskipun tidak lagi berkuasa atau memimpin pasukan, mantan petinggi militer masih dipandang sangat berpengaruh dalam pemilihan presiden bulan April.
2 tiket kepresidenan yang berjalan dalam pemilihan 2019 bersaing untuk mendapatkan dukungan dari mantan jenderal militer dengan masing-masing kubu mengklaim memiliki dukungan yang lebih kuat daripada yang lain.
Keputusan mantan jenderal Muchdi Purwoprandjono baru-baru ini yang juga mantan komandan Pasukan Khusus Angkatan Darat (Kopassus) untuk menyatakan dukungannya kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah menambah daftar panjang mantan jenderal militer yang ikut serta dalam petahana koalisi.
3 mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia yaitu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto dan mantan wakil presiden Try Sutrisno serta Menteri Koordinator Bidang Kelautan Luhut Pandjaitan yang merupakan kepala unit antiteroris Kopassus dan mantan Kepala staf Angkatan Laut Marsetio adalah di antara para pensiunan jenderal yang telah menjadi loyalis Jokowi.
Pada 10 Februari, Jokowi dan pasangannya yaitu ulama Muslim Ma'ruf Amin secara resmi menerima dukungan dari sekitar 1.000 perwira militer pensiunan dan banyak dari mereka adalah jenderal. Dukungan itu datang hanya beberapa hari setelah Presiden setuju untuk memberikan lebih banyak pos sipil kepada personil militer aktif di lembaga pemerintah.
Kubu penantang Prabowo Subianto yang juga mantan elit militer mengklaim bahwa ia memiliki lebih banyak mantan jenderal yang mendukung ketua Partai Gerindra. Pensiunan jenderal yang menonjol mendukungnya termasuk mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mantan kepala TNI Djoko Santoso, mantan kepala Angkatan Laut Tedjo Edhy Purdijatno. Namun Yudhoyono yang saat ini memimpin Partai Demokrat telah memutuskan untuk meninggalkan kampanye pemilihan untuk merawat istrinya yang sedang sakit.
Prabowo, seorang mantan komandan Kopassus juga didukung oleh beberapa pensiunan anggota unit elit termasuk Letnan Jenderal (purnawirawan) Yunus Yosfiah, seorang mantan kapten Kopassus selama invasi Indonesia pada 1975 di Timor Timur saat itu dan Letjen. (Purn) Yayat Sudrajat, mantan kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) militer.
Sementara tim kampanye Jokowo telah mengklaim bahwa lusinan mantan jenderal telah memberikan dukungan mereka di balik upaya pemilihan Presiden sebaliknya tim Prabowo mengklaim telah mendapatkan ratusan.
Wakil ketua Gerindra dan pendukung Prabowo Fadli Zon dengan bangga mengklaim bahwa ratusan pensiunan jenderal militer mendukung Prabowo.
“Ratusan jenderal yang baik telah bergabung dengan kami untuk mendukung Prabowo. Kami memiliki banyak pensiunan jenderal yang ahli dalam intelijen, ”kata Fadli.
Para pengamat mengatakan ras ini sangat dipengaruhi oleh posisi-posisi penting yang dimiliki oleh para pensiunan saat ini. Penugasan bertahun-tahun di berbagai pangkalan militer di seluruh negeri telah memungkinkan mereka membangun hubungan dengan individu dan politisi lokal di tingkat regional dan akar rumput yang dapat membantu dalam mengumpulkan dan mengamankan suara.
Keahlian mereka dalam intelijen juga memudahkan mereka untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan oleh kampanye untuk merumuskan strategi politik.
“Saya dapat menggunakan dan memengaruhi jaringan saya untuk membuat orang memilih Jokowi tetapi saya tidak ingin bergabung dengan tim kampanyenya,” kata Muchdi.
Pakar militer Khairul Fahmi dari Institute of Security and Strategic Studies (ISESS) mengatakan bahwa dukungan dari mantan jenderal TNI telah menyebabkan divisi di lembaga militer.
“Ini semacam pembagian di antara bekas elit militer tetapi tidak terpecah. Saya berasumsi bahwa mereka memiliki agenda tertentu. Mereka ingin memastikan bahwa siapa pun yang menang dan menjadi presiden maka pemerintah tidak akan membahayakan kepentingan institusi militer, ”kata Khairul.
Dia menambahkan bahwa pensiunan jenderal masih memiliki koneksi dengan personel aktif dan karena itu dapat melewati agenda yang diusulkan oleh TNI.
"Jadi, kedua kandidat presiden harus berhati-hati dalam menanggapi dukungan militer untuk menghindari kemungkinan menghidupkan kembali militerisme di negara ini," kata Khairul.
Selama era Orde Baru Soeharto, militer memiliki dwifungsi ( peran ganda) yang memungkinkan para perwira militer untuk terlibat dalam semua aspek kehidupan sipil.

Comments

Popular Posts