AS Berbohong Tentang Kerusakan Akibat Serangan Rudal Iran Terhadap Pangkalan AS


WW3 - Sebuah laporan oleh koresponden untuk TV Denmark 2 yang telah mewawancarai tentara Denmark yang diposisikan di Ein Al-Assad di Irak yang menjadi target serangan balasan dari Iran terhadap pasukan AS menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi pada militer markas itu "jauh lebih besar" dari yang diklaim para pejabat AS.

Laporan itu mengutip sersan John dan tentara Denmark lainnya yang membuat komentar dalam sebuah wawancara setelah pangkalan AS itu menjadi sasaran serangan balasan Iran atas pembunuhan Washington terhadap komandan top Teheran.

“Tiba-tiba gelombang pertama datang saya menyebutnya begitu. 9 roket dengan berat hampir 1 ton. Itu tidak bisa dijelaskan. Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu dan saya berharap tidak akan pernah datang lagi” kata sersan Denmark yang berada di dalam bunker bersama dengan rekan-rekannya yang lain pada saat serangan katanya.

“Serangan pertama sangat parah sehingga kami yakin kami akan pergi ke padang pasir emas dan tidak ada yang tersisa. Kami benar-benar terkejut bahwa semuanya tidak jatuh di atas kepala kami. Saya akan memperkirakan bahwa roket terdekat menghantam 300 meter dari kami dan ketika kami berjalan berkeliling setelah itu ada separuh helikopter dan ada lubang yang begitu besar sehingga Anda dapat memarkir sebuah van di dalamnya” kata sersan itu menambahkan.

Dia menyatakan bahwa kerusakan itu "sebenarnya jauh lebih besar daripada yang diakui AS bahkan helikopter dihancurkan dan tidak hanya beberapa bangunan rusak dan mengenai wilayah terbuka di kamp".

Ein Al-Assad yang menampung pasukan AS, adalah salah satu pangkalan militer terbesar dan tertua di Irak.

Para pakar dan pakar yang terkejut dengan peningkatan kecakapan balistik Iran setelah gambar satelit menunjukkan keakuratan serangan rudal Iran di pangkalan udara AS dan Presiden Donald Trump mengklaim bahwa operasi militer Teheran tidak meninggalkan korban.

Pengarahan media tentang tujuan operasional serangan rudal di pangkalan AS yaitu Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Islam Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh mengatakan bahwa Iran tidak ingin membunuh siapa pun meskipun "puluhan pasukan AS kemungkinan telah terbunuh dan terluka dan dipindahkan ke Israel dan Jordan pada 9 penerbangan jenis C-130".

Dia mencatat bahwa seandainya Iran berniat untuk membunuh pasukan AS maka negara itu dapat merencanakan operasi korban tinggi untuk membunuh 500 tentara AS pada langkah pertama dan 4.000 hingga 5.000 lainnya dalam fase kedua dan ketiga dalam waktu 48 jam.

Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Komandan Pasukan Qods Letnan Jenderal Qassem Soleimani menjadi martir dalam serangan pembunuhan yang ditargetkan oleh pesawat AS di Bandara Internasional Baghdad pada hari Jumat lalu. Pentagon juga martir Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak atau Hashad al-Shabi 5 Iran dan 5 militer Irak.

Pada hari Rabu Iran menembakkan lebih dari selusin rudal di 2 pangkalan militer AS di Irak sebagai pembalasan atas pembunuhan Washington terhadap komandan elit Teheran yang memperingatkan serangan lebih lanjut terhadap AS.

Kemudian pada hari yang sama Iran mengumumkan bahwa setidaknya 80 prajurit AS tewas dan lebih dari 200 lainnya cedera dalam serangan itu.

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei menyebut operasi hari Rabu "hanya tamparan di muka" AS yang menyatakan bahwa "gerakan militer seperti ini tidak cukup. Kehadiran AS yang menggemparkan harus datang ke sebuah akhir".

Comments

Popular Posts